Skills apa aja sih yang dibutuhkan untuk belajar Kedokteran?

Dari definisi singkat tentang Ilmu Kedokteran, kita bisa menjabarkan skills apa aja nih yang dibutuhkan untuk mendalami ilmu ini.

1. Pemahaman Konsep yang Kuat di Biologi, Kimia, hingga Fisika dan Matematika

“Saya kan di SMA sekarang nilai Biologinya bagus terus nih. Meskipun matematika dan fisika ancur, saya mau jadi dokter aja ah.”

“Kita kan di SMP dan SMA udah belajar banyak tentang tubuh manusia. Kita belajar sistem darah, sistem gerak, sistem pencernaan, banyak deh. Jadi sebenernya materi kuliah Kedokteran udah dipelajari dari dulu kan?”

Ga sedikit yang pengen kuliah Kedokteran semata-mata karena suka atau punya nilai Biologi yang bagus di SMA. Ini adalah kesalahan besar yang selalu terjadi berulang setiap tahunnya di kalangan mahasiswa baru Kedokteran. Untuk survive menjadi mahasiswa Kedokteran dan menjadi dokter yang handal di masa depan, ga cukup cuma melihat kemampuan Biologi SMA aja.

Belajar tentang tubuh manusia di tingkat kuliah kedokteran itu jauh berbeda dibandingkan belajar Biologi di SMP dan SMA. Di SMA, mungkin kamu akan “selamat” jika bisa sekadar menghafal nama-nama dan urutan tulang dengan benar. Di SMA, mungkin kamu masih bisa mendapat nilai bagus atau bahkan dapat ranking jika bisa menghafal fungsi dan penyakit Sistem Reproduksi Manusia tanpa memahami keterkaitannya dengan organ lain yang dipelajari di bab-bab sebelumnya.

Mau lulus seleksi ? , coba ikuti Bimbel jaminan masuk Kedokteran PTN UI UNPAD terbaik

Tapi.. di tingkat S1, ilmu ini berbeda sekali. Ilmu Kedokteran tingkat perkuliahan jauh lebih terpadu dan fokus pada kesetimbangan tubuh. Kamu tidak cukup hanya mengenal, tapi kamu juga harus memahami fungsi dari benda-benda dan roda-roda mesin yang ada di dalam tubuh manusia beserta INTERAKSINYA hingga dapat berfungsi dengan penuh. Ketika mempelajari penyakit yang menyerang suatu organ, kamu harus bisa mengkoneksikannya dengan kondisi organ-organ lain, bahkan menganalisisnya sampai tahap sel.

Nah, banyak anak SMA yang ga ngeh kalo cara kerja sel dan sistem tubuh itu kebanyakan masuk ke ranah ilmu Kimia. Ga percaya? Ilustrasinya nih:

  • Ion mengatur komunikasi antar sel.
  • Reaksi kimia memandu banyak proses biologis.
  • Tiap zat yang ada atau masuk ke dalam tubuh harus tepat dosis agar tidak menimbulkan efek samping.
  • Dll.

Oleh karena itu, pemahaman konsep Kimia yang kuat (mulai dari Asam dan Basa, Reaksi Kimia, sampai Kimia Organik) akan memberikan fondasi yang kokoh untuk memahami berbagai interaksi sistem tubuh.

Hal lain yang juga mengagetkan anak SMA adalah ilmu Fisika juga kepake di kuliah Kedokteran. Contohnya:

  • Pemahaman konsep Fisika Kuantum akan membantu kamu memahami bagaimana alat X-Ray bekerja.
  • Jika kamu tidak menguasai konsep Vektor di Fisika SMA, kemungkinan kamu akan kesulitan memahami sistem EKG dan alat rekam jantung sebagai salah satu alat emergensi di dunia medis.
  • Jika kamu tertarik menjadi Dokter bidang rehabilitasi atau Bedah Tulang, konsep Sistem Katrol dan Kesetimbangan Momen di Fisika akan sangat membantu menjadi dasar penatalaksanaan/treatment untuk patah tulang, misalnya.
  • Dsb.

Nah, supaya jago di Kimia dan Fisika, skills Matematika-nya juga harus oke dong 😉

2. Kemampuan Berpikir Sistematis

Ilmu Kedokteran sangat fokus pada interaksi antar sel dan sistem organ tubuh. Tubuh manusia bisa dianalogikan sebagai suatu pabrik yang terbagi menjadi berbagai unit kerja. Tubuh manusia membentuk suatu alur yang dalam fungsi optimalnya dapat memberikan dan memasok segala macam zat yang diperlukan untuk menjalankan fungsi kehidupan. Di sisi lain, tubuh manusia juga dapat mengeluarkan segala zat sisa atau racun yang dihasilkan sistem kehidupan tersebut. Ketidakseimbangan antara keduanya menjadi salah satu penyebab dan gejala penyakit. Oleh karena itu, dalam memahami tubuh manusia secara keseluruhan, dibutuhkan skill untuk berpikir secara menyeluruh atau sistematis. Kita ga bisa menganalisis suatu organ secara parsial/terisolasi dari organ lainnya seperti pendekatan belajar pelajaran Biologi di SMA pada umumnya. Nah, skill berpikir sistematis ini justru lebih mirip dengan skill yang dipakai oleh mereka yang sekolah Teknik Kimia dan Teknik Industri, lho. 

3. Kemampuan Bahasa Inggris yang Oke

“Ah ga perlu-perlu amat lah Bahasa Inggris kalo masuk Kedokteran. Sekolahnya di Indonesia, praktik kerja jadi dokter di Indonesia, pasiennya juga orang Indo!”

Salah besar! Ilmu kedokteran masa kini sangat erat dengan 2 bahasa, yaitu Bahasa Latin dan Bahasa Inggris. Yep, textbooks yang akan kalian pakai jadi bacaan wajib saat kuliah adalah buku berbahasa Inggris yang dipenuhi banyak istilah Bahasa Latin.

Masa ga pake textbook berbahasa Indonesia sama sekali?

Penerjemahan bahan ajar dan hasil penelitian ke Bahasa Indonesia bisa memakan waktu yang lama dan ongkos yang besar. Rata-rata buku berbahasa Indonesia untuk bidang kedokteran itu terlambat 5 tahun dibandingkan edisi bahasa Inggris! Artinya, kalo kalian kekeuh belajar dengan buku bahasa Indonesia saja, buku yang kalian baca itu sudah ketinggalan jaman selama 5 tahun ketika baru terbit. Apalagi jika kalian beli bukunya di pasar/warung loak. Kebayang ga tuh betapa ketinggalannya kalian nanti.

Kenapa faktor ketertinggalan ini penting? Kok kayanya beda ya sama buku kakak saya di jurusan Teknik yang umurnya sudah 10 tahun masih bisa dipakai?

Ilmu kedokteran sekarang sedang maju-majunya. Sebagai ilustrasi aja ya, pada saat generasi saya belajar sekitar tahun 2010, beberapa ilmu yang baru dipelajari oleh generasi dosen saya 10 tahun lalu bahkan sudah dibantah oleh buku-buku kami yang baru terbit 1 tahun sebelumnya. Bisa kebayang kan kalau kamu pakai buku yang ilmunya sudah berumur 5 tahun? Kamu akan dibantah oleh teman kuliah dan kunci ujian sudah berubah tidak mengikuti buku kamu lagi.

Emang Bahasa Inggris yang diperlukan untuk belajar di Kedokteran itu setaraf berapa sih?

Sekolah saya dulu mensyaratkan TOEFL 550 sebelum lulus S1. Beberapa sekolah mungkin sekarang sudah mensyaratkan TOEFL sebelum masuk S1. Namun, pada kenyataannya, bahasa Inggris yang ada di teks buku kedokteran tidak akan selevel TOEFL, tapi selevel tes SAT! Wah apaan tuh? Scholastic Aptitude Test atau SAT adalah ujian saringan masuk universitas di Amerika Serikat (semacam SBMPTN-nya Amerika Serikat lah). Level TOEFL itu fokus ke penggunaan Bahasa Inggris untuk percakapan sehari-hari, sedangkan level SAT fokus pada penggunaan Bahasa Inggris untuk konteks akademik. Jadi, meskipun tidak disyaratkan, ada baiknya kamu belajar bahasa Inggris sampai level SAT agar bisa lebih unggul dari teman2 kuliah Kedokteran kamu nantinya, dalam hal bisa membaca textbook lebih cepat dan lebih akurat.