Film A Muse (2012) : Drama Penuh Kontroversi

Diadaptasi dari novel karangan penulis terkenal Taman Bum-shin, film ini menceritakan tentang kisah cinta anara Lee Jeok-yo, penyair nasional berusia 70-an dengan seorang remaja perempuan bernama Eun-gyo.

Pertemuan tak terduga di antara keduanya membawakan perasaan baru dalam diri Jeok-yo. Namun, hubungan keduanya mendapatkan protes dari asisten Jeok-yo sendiri, yaitu Seo Ji-woo.

Film ini menuaikan kontroversi karena isinya yang menceritakan kisah cinta dengan jarak usia terpaut jauh. Namun, film yang dibintangi oleh Park Hae-il, Kim Go-eun, dan Kim Mu-yeol ini menjadi salah satu film yang paling direkomendasikan.

Sutradara : Ji-Woo Jung

Penulis Skenario : Ji-Woo Jung

Bintang Utama : Park Hae-Il sebagai Lee Juk-Yoo, Kim Mu-Yeol sebagai Seo Ji-Woo, dan Kim Go-Eun sebagai Han Eun-Gyo

Genre : Drama

Link : Film semi

Sedikit spoiler film A Muse (2012)

Cerita film diawali dengan sosok kakek-kakek yang merupakan seorang penyair sekaligus penulis terkenal dan senior yang udah banyak banget karyanya. Ditunjukkan dengan sebuah ruangan yang menurutku adalah ruang kerjanya, dimana banyak banget buku-buku tebel, yang keberadaannya mulai dari yang tertata lumayan rapi di rak, sampai ada yang berserakan di lantai.

Diawal film ini, menggambarkan kalau kakek-kakek yang bernama Lee Jeok-Yo ini, sedang kesepian. Kehidupannya datar dan kelihatan hampa. Dan sepahamku, kayaknya Lee Jeok-Yo ini, juga sedih dengan usia tuanya yang kosong karena nggak punya pasangan.

Ada scene dimana Lee-Jeok Yo ini buka bajunya satu persatu sampai telanjang di depan cermin, terus memandangi kelaminnya dengan tatapan datar.

Terus, cerita film ini beralih kepada seorang novelis baru dan juga lulusan insinyur yang baru aja nerbitin satu karyanya. Nama novelis muda ini, Seo Ji-Woo . Ternyata, Ji-Woo ini, merupakan mahasiswa si Jeok-Yo ini dulu. Dilihat dari sepanjang cerita, si Ji-Woo sangat menghormati Jeok-Yoo sebagai guru, kekasih, dan seorang figure ayah.

Kelihatan si Ji-Woo ini sangat perhatian sama si Jeok-Yo ini. Nyiapin sarapan, masakin makan siang, nyuciin baju, bersihin rumah, pokoknya segalanya.

Hal ini, merupakan wujud pengabdian si Ji-Woo untuk mendapatkan pengakuan dari Jeok-Yo agar merasa kalau dirinya memang benar-benar seorang sastrawan sejati.